ISOLASI Bacillus thuringiensis BERLINER DARI LIMBAH ULAT SUTERA DAN TOKSISITASNYA TERHADAP LARVA Spodoptera exiqua Hbn. HAMA UTAMA TANAMAN BAWANG MERAH

Hanafiah Hasnin1, Baharuddin2, dan Fachrudin2

1) Fakultas Pertanian Universitas 45 Makassar

2) Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Hasanuddin Makassar

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strain-strain Bacillus thuringiensis yang diperoleh dari limbah ulat sutera dan patogenitasnya terhadap larva Spodoptera exiqua. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin. Pengujian laboratorium menunjukkan bahwa dari 22 sampel limbah ulat sutera (Gowa, Wajo, Soppeng) berhasil diisolasi bakteri Bacillus sp. sebanyak 418 dan 5 diantaranya adalah isolat bakteri B. thuringiensis (penghasil kristal protein) yang dapat digunakan sebagai agen pengendali hayati, yaitu Go2, Wa4, Wa8, So3, dan So5. Hasil uji patogenitas dengan pemberian makan pada daun bawang merah yang telah dicelupkan ke dalam suspensi B. thuringiensis mampu mencapai mortalitas S. exiqua sebesar 86,7% sampai 96,7% dan berbeda nyata dengan kontrol, tetapi tidak berbeda nyata dengan isolat pembanding. Aplikasi isolat Wa4 dengan berat daun bawang merah terendah 0,192 g dapat mencapai mortalitas tertinggi larva S.exiqua sebesar 96,67%.

Baca selengkapnya…

Filed in Jurnal Perlindungan | Comment Now

PENGUJIAN LC50 Beauveria bassiana DARI ISOLAT Ostrinia furnacalis TERHADAP MORTALITAS TELUR DAN PUPA PENGGEREK BUAH KAKAO (Conopomorpha cramerella) PADA TANAMAN KAKAO

Yulianti, Itji Diana Daud, dan Ahdin Gassa

Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian
UNHAS

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat berbagai konsentrasi Beauveria bassiana terhadap telur dan pupa penggerek buah kakao (PBK) (Conopomorpha cramerella). Penelitian dilaksanakan di Desa Batulappa Kecamatan Duampanua Kabupaten Pinrang dan perbanyakan cendawan dilakukan di Laboratorium Penyakit Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Hasanuddin. Penelitian ini terdiri dari lima perlakuan konsentrasi (104, 105, 106, 107, 108) dan satu kontrol dimana masing-masing konsentrasi diaplikasikan pada stadia telur dan pupa PBK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B.bassiana pada konsentrasi 108 spora/ml telah dapat mematikan 50% serangga uji (stadia telur dan pupa) pada kondisi di botol sedangkan pada kondisi di pertanaman konsentrasi B. bassiana 107 spora/ml.

Baca selengkapnya…

Filed in Jurnal Perlindungan | Comment Now

HASIL PENELITIAN HAMA KUMBANG BUBUK Sitophilus zeamais Motsch PADA TANAMAN JAGUNG

Masmawati

Balai Penelitian Tanaman Serealia

ABSTRAK

Status pengelolaan dan evaluasi hasil-hasil penelitian hama gudang saat ini lebih diarahkan pada penciptaan teknologi yang aman lingkungan. Hak ini dimaksudkan agar penggunaan bahan kimia sebagai unsur pengendali serangga hama dapat diminimalkan sekecil mungkin. Langkah tersebut harus didukung oleh terlaksananya kegiatan-kegiatan penelitian jagung yang diarahkan pada pembentukkan galur/famili yang tahan, usaha-usaha penyaringan galur/famili hasil persilangan baik dari dalam dan luar negeri dan studi heritabilitas ketahanan genotip khususnya terhadap infestasi hama kumbang bubuk Sitophilus zeamais Motsch. Kajian-kajian lain seperti studi kehilangan hasil oleh akibat penundaan panen, studi pengaruh tekanan serangga terhadap intensitas kerusakan biji dan studi pengaruh beberapa bahan nabati pada periode penyimpanan diharapkan dapat memberi masukan informasi tambahan dalam mendukung usaha pengelolaan hama kumbang bubuk.

Baca selengkapnya…

Filed in Jurnal Perlindungan | Comment Now

KEUNTUNGAN DAN KELAYAKAN ALAT SIMPAN JAGUNG DALAM PENGENDALIAN HAMA GUDANG

Margaretha SL., Ramlah, A., dan Djafar Baco

Balai Penelitian Tanaman Serealia

ABSTRAK

Penelitian hama gudang melalui berbagai bentuk alat simpan seperti : 1) silo kayu dinding dalam berlapis seng, kapasitas 1 ton; 2) silo asbes kapasitas 1 ton; 3) jerigen plastic, kapasitas 20 kg; dan 4) karung jumbo lapis plastic kapasitas 100 kg dengan control pada petani yang menyimpan jagung dalam bentuk tongkol berkelobot yang diikat diujung dengan lama penyimpanan 0 bulan, 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 8 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan padat populasi hama gudang (Sitophilus zeamays) sudah terlihat pada 2 bulan penyimpanan, kecuali pada jerigen plastik, namun kapasitasnya hanya 20 kg sedang silo kayu berlapis seng berkapasitas 1000 kg (1 ton) padat populasi S. zeamais hanya 0,5 – 1 ekor pada penyimpanan 2 – 4 bulan, sedang penyimpanan 6 – 8 bulan tidak ditemukan. Kemungkinan ini disebabkan karena penutupan yang tidak rapat. Dari teknologi penyimpanan yang tersedia, ternyata penyimpanan dalam silo asbes dan silo kayu berlapis seng memberi keuntungan yang terbesar yaitu Rp. 697.286 dan Rp. 559.490 dengan lama penyimpanan 8 bulan. Bila dikembangkan sebagai usaha jasa penyimpanan, maka akan memberi peluang yang menguntungkan karena memiliki nilai B/C ratio > 1.

Kata kunci :  Hama gudang, silo asbes dan silo kayu.

Filed in Jurnal Perlindungan | Comment Now

FLUKTUASI HAMA UTAMA JAGUNG DAN PENGENDALIANNYA

Surtikanti dan M. Yasin

Balai Penelitian Tanaman Serealia

ABSTRAK

Jagung memegang peranan penting sebagai sumber bahan industri dan bahan baku pakan. Kebutuhan akan jagung dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan. Untuk memenuhi kebutuhan akan jagung pemerintah melakukan berbagai terobosan seperti penggunaan varietas unggul dan hibrida. Salah satu penyebab rendahnya produksi jagung karena adanya serangan hama. Hama yang sering menimbulkan kerusakan dan menyebabkan kehilangan hasil pada pertanaman jagung adalah penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), penggerek tongkol (Helicoverpa armigera), lalat bibit (Atherigona sp.), dan ulat grayak (Spodoptera litura). Untuk mengendalikan hama-hama tersebut diterapkan pengendalian hama terpadu (PHT). Komponen-komponen PHT meliputi penggunaan varietas tahan, kultur teknis dan pemanfaatan musuh alami serta penggunaan insektisida yang ramah lingkungan.

Kata kunci : jagung,  hama utama, pengendalian hama terpadu

Baca selengkapnya…

Filed in Jurnal Perlindungan | Comment Now

KARAKTERISTIK BAKTERI (Pseudomonas solanacearum) PENYEBAB PENYAKIT LAYU KACANG TANAH DAN PENGENDALIANNYA

Soenartiningsih dan A. Haris Talanca

Balai Penelitian Tanaman Serealia

ABSTRAK

Penyakit layu kacang tanah disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum yang dapat menurunkan produksi kacang tanah. Di Indonesia penurunan produksi akibat penyakit layu bakteri ini mencapai 30 sampai 60 %, sedangkan dinegara lain seperti China kehilangan hasil mencapai 50.000 ton setiap tahunnya. Bakteri P. solanacearum bersifat aerob, tidak berspora dan tidak berkapsul serta bersifat gram positif, dengan ukuran sel bakteri 0,5 x  1,5 µm. Isolat yang virulen tidak mempunyai flagela sedangkan yang avirulen mempunyai 4 flagela. Bakteri ini  dapat dibagi 5 ras yang terdiri dari 5 biovar, setiap biovar dapat diidentifikasi berdasarkan susunan biokimia atau fisiologinya. Biovar yang bersifat patogen pada kacang tanah  adalah  biovar 1, 3 dan 4. Sedangkan biovar 2 dan 5 belum dilaporkan dapat menginfeksi kacang tanah. Khusus di Indonesia biovar 3 dilaporkan dapat menyebabkan penyakit layu pada kacang tanah. Gejala penyakit layu pada tanaman muda mengakibatkan layu mendadak pada batang dan daun, sedangkan daun lainnya tetap berwarna hijau. Pada tanaman tua serangannya menyebabkan daun menguning, layu atau mati satu cabang atau seluruh tanaman. Pada akar tanaman yang terinfeksi menjadi busuk, dan berwarna coklat. Pengendalian penyakit layu kacang tanah dapat dilakukan secara terpadu yaitu secara kultur teknis dengan rotasi tanaman dan sanitasi tanaman, penggunaan varietas tahan serta benih sehat (tidak terinfeksi). Di Indonesia varietas kacang tanah yang tahan terhadap penakit layu adalah varietas Macan, Banten, Tupai, Tapir, Pelanduk, Tuban, Muneng dan Tasikmalaya.

Kata Kunci : P. solanacearum, Biovar dan aerob

Baca selengkapnya…

Filed in Jurnal Perlindungan | Comment Now

PENYAKIT BULAI PADA TANAMAN JAGUNG DI INDONESIA MASALAH PENELITIAN DAN CARA MENGATASINYA

Wasmo Wakman

Balai Penelitian Tanaman Serealia

ABSTRACT

Downy mildew disease of maize was widely spread in most of maize producing islands of Indonesia archipelago. It was caused by the fungus Peronosclerospora maydis (Rac.) Show., in most area except in Sulawesi caused by P. phipippinensis (Weston) Shaw. Yield losses up to 100% were often happened in certain time on susceptible maize varieties. Attempts to control the disease were done by selecting resistant maize varieties and effective fungicide, crop rotation or maize plant free periods. Integrated downy mildew management (IDM) by using resistant varieties, synchronous planting time, crop rotation, maize plant free periods and seed dressing fungicide application at late planting had long been recommended. However, the disease was still become a problem recently. The IDM was not adopted by farmers. Two decisive factors in IDM are availability of resistant maize seeds to the farmers and the maize plant free period. The selected highly resistant maize varieties to downy are Pioneer-4, Pioneer-5, Pioneer-9, Pioneer-10, Pioneer-12, BISI-4, CPI-2, Semar-7, Lagaligo, and  Surya. In most Indonesia area with rainy season period October to April and dray season period April to October, the best maize plant free periods were August – September and February – March for time of planting October and April respectively. Adoption of the two component of IDM will eliminate downy mildew drasticaly even without application of fungicide.

Key words  :  Peronosclerospora maydis, P. philippinensis, Zea mays, resistance disease management.

Filed in Jurnal Perlindungan | Comment Now

ADA APA DENGAN “TANAMAN TRANSGENIK”

Untung Surapati

Jurusan Hama dan Penyakit Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin

ABSTRAK

Setelah dua tahun penanaman Kapas Transgenik Bt (Monsanto Bt-Cotton/Bollgard) di Sulawesi Selatan, ternyata untuk sementara hasilnya tidak menggembirakan. Klaim bahwa produksinya dapat mencapai 3,8 t/ha tidak terbukti, bahkan ada sekitar 70% petani penanam bollgard tidak mampu mengembalikan kreditnya. Tidak tercapainya harapan yang ada terhadap bollgard dimungkinkan oleh banyak sebab, antara lain : tekanan hama sekunder yang meningkat dan tidak cocok untuk dibudidayakan di ekologi tropis. Pada makalah ini, harapan-harapan yang memudar itu akan didiskusikan

Baca selengkapnya…

Filed in Jurnal Perlindungan | Comment Now

IDENTIFIKASI HAMA UTAMA JAGUNG DAN CARA PENGENDALIANNYA PADA TINGKAT PETANI DI SULAWESI SELATAN

Bahtiar dan A. Tenrirawe

Balai Penelitian Tanaman Serealia

ABSTRAK

Identifikasi hama utama jagung dan cara pengendalian yang dilakukan petani dilaksanakan pada 4 kabupaten sentra produksi jagung di Sulawesi Selatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan cara pengendaliannya.  Penelitian dilakukan dengan metode survei dan peninjauan lapangan untuk melihat secara langsung jenis hama di pertanaman pada ekologi lahan sawah dan lahan kering.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa hama yang paling dikhawatirkan petani adalah belalang terutama pada pertanaman di ekologi lahan kering dengan tingkat serangan dapat dikategorikan sedang (10%) sampai berat (70%).  Daun jagung yang terserang, banyak yang tinggal tulangnya, sedang helai daunnya habis termakan belalang.  Penyerangan berlangsung singkat  yaitu hanya 3-5 hari pada umur jagung berkisar antara 15 – 55 hari.  Upaya pengendalian yang dilakukan petani adalah menyemprot insektisida (Regent) dengan dosis sesuai pada labelnya tetapi hasilnya tidak efektif, kecuali apabila disemprot sebelum belalang menyerang. Hama lain yang dijumpai adalah penggerek batang, penggerek tongkol, dan ulat grayak; ketiganya ditemukan pada ekologi lahan kering dan sawah tetapi serangannya masih di bawah ambang kendali.  Sebagian petani mengendalikan dengan sisa insektisida yang dimiliki, dan sebagian lagi tidak mengendalikan/memberantas.

Kata kunci : Identifikasi hama utama, cara pengendalian
Baca selengkapnya…

Filed in Jurnal Perlindungan | Comment Now

PENGENDALIAN ULAT KIPAT (Cricula trifenestra) PADA TANAMAN JAMBU METE

Hasmiah Hamid 1), Rahmat Jahuddin 2) dan Hasmah 3)
1)    Staf Balai Besar Karantina Pertanian Makassar
2)    Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar
3)    Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan

 

ABSTRAK
Cricula trifenestrata (Lepidoptera:Saturniidae). Hama ini bersifat polifag, selain menyerang jambu mete juga menyerang alpukat, kedondong, kayu manis, jambu, kenari, mangga dan kakao. Imago berupa ngengat berukuran antara 6-8 cm berwarna coklatkemerahan kusam, aktif pada malam hari dan tertarik pada cahaya lampu. Telur berwarna putih keabuan diletakkan dalam barisan pada tepi daun atau pada cabang. Stadia yang merusak yaitu larva yang terdiri dari 4 – 5 instar, berwarna hitam dengan bercak putih dan rambut putih. Kepala dan abdomennya berwarna merah terang. Kepompong berwarna coklat terbungkus oleh kokon seperti jala berwarna kuning emas menempel pada permukaan bawah daun atau tempat lain yang relatif tersembunyi. Cricula trifenestrata ditemukan di seluruh wilayah Indonesia dan di beberapa negara di Asia Tenggara. Hama ini sangat rakus memakan semua daun tua dan muda tanaman jambu mete, sehingga tanaman tampak meranggas. Tanaman yang terserang biasanya tidak sampai mati dan akan pulih dalam beberapa minggu kemudian. Tanaman inang lain seperti mangga, avokat, kedondong, kenari, pohon hutan lain. Cricula trifenestrata memiliki banyak musuh alami sehingga pengendaliannya dapat dilakukan secara fisik, mekanik, lampu perangkap dan insektisida secara bijakasana.

KATA KUNCI  : Pengendalian, Cricula trifenestrata, Jambu Me
Baca selengkapnya…

Filed in Jurnal Perlindungan | Comment Now